Mahasiswa ITN Menelisik Keunikan Bangunan De Javasche Bank Surabaya

Mahasiswa Arsitektur yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA) ITN Malang menelisik keunikan arsitektur bangunan Museum Bank Indonesia (De Javasche Bank) Surabaya. Sebanyak 45 anggota HMA mempelajari filosofi bangunan dari museum yang memiliki warisan arsitektur Kolonial dengan gaya Neo-Renaissance Architecture.

Mahasiswa ITN Menelisik Keunikan Bangunan De Javasche Bank Surabaya

Ketua HMA, Yosua menuturkan, arsitektur Belanda mengacu pada arsitektur Eropa dengan ciri tembok yang tebal, atap runcing menjulang dengan tiang-tiang yang tinggi. “Tembok dari bangunan ini memiliki tebal sekitar 60 cm, dengan tinggi kira-kira 6 meter. Padahal rata-rata tebal tembok normal di Indonesia hanya 15 cm. Kekokohan bangunan yang berdiri sejak tahun 1829 dan dibangun kembali pada tahun 1904 serta dirancang dengan cara yang sama dengan kantor pusat de Javasche Bank Batavia ini bertahan sampai sekarang, hanya berubah diwarna catnya saja,” tuturnya bersemangat.

 

Lebih jauh Yosua menjelaskan, di museum Bank Indonesia Surabaya juga terdapat bunker semacam ruang bawah tanah. Sedangkan untuk CCTV masih tradisional dengan memanfaatkan bayangan yang terpantul dari cermin. Uniknya atap di tengah bangunan museum ini menggunakan kaca, sehingga pada siang hari pukul 12 Cahaya matahari akan menerobos masuk ke dalam bangunan. “Makanya di siang hari tidak memerlukan lampu. Bangunan seperti ini hanya ada dua di dunia, di Surabaya dan Perancis,” ujarnya.

 

Sebagai akhir perjalanan tidak lengkap rasanya sebagai mahasiswa Arsitektur , tanpa melakukan karya kreatif sehingga secara bersama-sama  membuat sketsa on the spot di seputaran jembatan merah sambil ngabuburit. (humas)