rektor-itn-malang-lalu-mulyadi-dalam-meneliti-Cakranegara-kota-tertua-di-Indonesia

Jika selama ini masyarakat Indonesia mengenal kota Xi’an di provinsi Shaanxi, Cina sebagai salah satu kota tua di Dunia berdiri sekitar 300 tahun lalu. Di Indonesia juga memiliki kota tua yang usianya juga ratusan tahun. Kota itu adalah kota Cakranegara yang berada di Lombok, yang didirikan pada tahun 1692.

Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT, satu-satunya orang yang meneliti kota itu, menyatakan bahwa kota ini memiliki tata ruang yang sangat unik dan maju, bahkan lebih maju ketimbang penataan kota-kota modern yang ada saat ini. “Kota ini dulunya sebagai kota benteng. Penataannya sangat teratur, bahkan saat penjajahan Belanda tidak bisa ditembus,” pria asal Lombok tersebut saat ditemui di ruang kerjanya (6/5).

Menurut Lalu, Cakranegara menata tata ruangnya dengan penuh makna dan sangat memperhatikan nilai-nilai agama, khusunya Hindu. Misalnya, kota seluas 2×2 kilometer itu terpetak ke dalam sembilan kotak yang dikenal dengan sebutan Sanga Mandala (sembilan ruang). “Sembilan ini adalah jumlah dewa yang umat Hindu yakini, yang kemudian diimplementasikan pada lahan,” kata pria yang juga Rektor ITN Malang itu.

Adapun bentuk kotak itu dimaksudkan agar membentuk perempatan, yang mana mereka meyakini bahwa pada perempatan itu itu terdapat dewa Siwa yang menunggu. Karena itu biasanya sesajen itu diletakkan di perempatan. “Karena di situ ada Dewa, maka jika terjadi penyerangan ada dewa yang akan menolong,” kata dia.

Alumni Universitas Teknologi Malaysia (UTM) itu melanjutkan, bahwa jumlah total blok sebanyak 36. Satu blok berisi 20 rumah dengan 27×27 meter. Besaran jalan yang digunakan untuk membelah blok-blok itu juga bervarisasi. Jalan utama yang membentang dari utara ke selatan berukuran 45 meter, jalan yang membentang timur ke barat ukurannya lebih kecil yaitu 36 meter. Sementara jalan-jalan antar blok berukuran 27 meter dan 9 meter. Setiap jalan sudah memiliki trotoarnya masing-masing. “Nah, dari ukuran-ukuran yang dipake ini, mulai dari ukuran rumah hingga jalan jika dihitung kelipatan 9. Angka 9 adalah jumlah dewa mereka, jadi tidak asal-asalan,” paparnya.

Uniknya lagi, lanjut Lalu, kota yang didirikan oleh Raja Anak Agung dari Bali itu sangat mengimplementasikan ajaran-ajaran agamanya. Memisahkan mana tempat suci dan tidak suci. Misalnya, untuk areal sebelah tenggara kota ada satu kotak yang tidak ditempati oleh umat Hindu. Daerah ini identik dengan dewa agni (api). Karenanya di kawasan ini sering dinyalakan api. Dan saat ini dijadikan tempat penghasil krupuk. “Pada satu kotak yang tidak ditempati ini, dihuni oleh umat muslim,” terang Lalu sembari menunjukkan peta lokasi wilayah.

Kemudian setiap blok memiliki tempat ibadah masing-masing. Kemudian didepan rumah ada pohon yang digunakan untuk menyimpan mayat, sebelum dilakukan upacara ngaben. Dalam tradisi orang situ, mayat tidak boleh masuk rumah, makanya disediakan tempat khusus untuk mayat yang disebut tagtagan.

Dengan demikian, lanjut Lalu, kota tua ini bisa dijadikan prototipe bagi pembangunan tata ruang kota di abad modern ini. (her)