Banjir-Kota-Sampang-Madura-Akan-Segera-Ditangani-oleh-Tim-ITN-Malang

Banjir Kota Sampang yang belakangan ini meresahkan masyarakat membuat para ahli Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang turut ambil bagian. Sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Ir. Kustamar, MT, salah satu ahli pengairan yang dimiliki oleh kampus biru. Menurut pria yang juga wakil rektor bidang akademik tersebut, bahwa langkah yang diambil kali ini seiring dengan penelitian yang dia lakukan tentang pengelolaan banjir berbasis konservasi air.

Pria asal Blitar itu menyatakan bahwa banjir di Sampang itu disebabkan bukan oleh faktor tungga, hujan misalnya. Tetapi ada beberapa faktor lainnya di antaranya: tanah di sana lempung yang memiliki daya serap rendah, dilintasi Daerah Aliran Sungai (DAS), dan juga ketersambungannya dengan muara air laut, sehingga ada pengaruh pasang-surut air laut. “Faktor yang lengkap ini sangat bagus. Hasil penelitiannya kalau dijadikan model akan lengkap pula,” kata dia saat ditemui di ruang kerjanya (6/5).

Adapun pola konservasi air yang akan digunakan adalah sumur resapan komunal. Langkah ini diambil karena mengingat lokasinya sangat padat penduduk, sehingga tidak harus setiap rumah memiliki sumur resapan. Kemudian daya serapnya yang sangat tinggi, bahkan mencapai 300 hingga 600 persen dibanding sumur resapan biasa. “Polanya nanti, sekitar 10 rumah satu sumur resapan ini. Kita akan tempatkan di gang-gang. Karena di areal padat spacenya hanya gang,” tutur pria yang juga alumni ITN Malang itu.

Selain itu, lanjut Kustamar, konsep penanggulan banjir berbasis konservasi air ini bukan hanya membuang air dari areal yang terkena banjir itu. Tetapi juga bagaimana menyuntikkan atau mengalirkan air itu ke dalam bumi. Karena ini berkaitan dengan ketersediaan air tanah bagi masyarakat di daerah terkena banjir. “Dengan dimasukkan air itu ke dalam bumi lagi. Maka nanti saat musim kemarau tidak kekurangan air, dan saat hujan tidak banjir,” katanya.

Bagaimana cara menyuntikkan air ke dalam bumi? Kustamar menjelaskan bahwa sumur resapan yang berdiameter 1,5 meter dan dalam kira-kira 10 meter itu akan diisi dengan pasir dan kerikil sebagaimana lapisan aquafer dimana air tanah berdiam. “Sekitar 25 persen dari sumur itu nanti diisi kerikil dan pasir untuk mengikat sebagian air. Sehingga air ini dapat digunakan dimusim panas,” kata dia.

Untuk memaksimalkan penelitiannya ini, Kustamar mendorong birokrasi setempat baik pemerintah maupun DPR untuk mendorong, kalau perlu memperdakan, agar dana desa juga dianggarkan bagi pembuatan sumur resapan sehingga tidak terlalu membebani masyarakat. “Harganya per sumur kira-kira sekitar 10 juta rupiah,” lanjutnya. (her)