Mengenakan kerudung warna hitam dengan almamater, Lia Zahrotin Ni’mah terlihat tidak berlebihan secara penampilan. Cara bicaranya tegas, jelas, dan tidak bertele-tele. Dara asal Tuban ini memang dikenal vokal oleh teman-temannya. Itulah kesan yang tampak saat pertama kali mewawancarai wisudawati terbaik Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang jurusan teknik industri D3. Ditemui digedung rektorat, Lia menceritakan banyak hal soal perjalananya selama belajar di kampus biru hingga dinobatkan sebagai terbaik. Menurutnya, setamat dari SMKN 1 Tuban, gadis yang juga seorang organisatoris itu sempat ingin masuk ke UGM. Tetapi rupanya belum takdir. Lalu berkat saran ayah tiri dia masuk ke ITN Malang jurusan teknik industri. Sejak itulah perjuangannya di mulai. Anak pasangan Tutik dan Sumitro tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar itu. Apalagi selama belajar ini dibiayai oleh perusahaan Semen Indonesia. “Sejak SMP saya mendapat beasiswa dari Semen Indonesia hingga kuliah,” terangnya. Alumni SMP 1 Kerek tersebut belajar sangat tekun selama proses kuliah. Setiap tugas yang diberikan oleh dosen dikerjakan dengan baik jarang bolos. Ketekunan inilah yang membuatnya memperoleh IPK 3,69, sekaligus sebagai nilai tertinggi di antara semua wisudawan-wisudawati angkatan ke 57 periode I 2017. Pada tugas akhirnya Lia membuat skripsi berjudul Perancangan Mesin Pencacah Pakan Ternak Yang Ergonomis Sebagai Usaha Pemenuhan Pakan Ternak. Dari penelitian ini, dia menciptakan alat pencacah rumput yang sangat efektif. Alat pencacah ini dapat mencacah lebih cepat 365 persen dari alat tradisional. Kemudian harga untuk membuatnya sangat murah berkisar 3,5 juta rupiah. Sementara alat tradisional 10 hingga 15 juta rupiah. “Alat ini cepat mencacahnya karena saya menggunakan mikrokontroller. Dari kontroller ini juga dapat diatur kecepatan mencacahnya,” kata anggota publik relation Perhumas muda Malang Raya itu. Dari mana insprasinya? Menurutnya inspirasi itu datang di daerah Lia hidup ada banyak peternak sapi yang dalam kesehariannya harus mencacah rumput untuk memberi pakan ternaknya. Namun sayang keluhan mereka kadang cacahan itu tidak cukup lantaran tidak terlalu cepat. Nah dari keadaan ini, mantan ketua HMJ Teknik Industri itu ingin menemukan sesuatu yang dapat memudahkan peternak. “Paman saya itu peternak sapi, jadi saya tahu di situ bahwa alat pencacah rumputnya sangat lambat,” ujarnnya. Selain itu, yang spesial dari dara manis ini adalah tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga ceras secara sosial. Terbukti di sela-sela kuliah, Lia selalu menyempatkan diri untuk menjadi relawan pengajar anak jalanan di Kota Malang. “Kalau waktu saya senggang saya ngajar anak jalanan di bawah jembatan Arjosari dan di sekitar kawasan Muharto,” kata ketua divisi pendidikan save street child Malang (SSCM). Adapun materi pelajaran yang berikan bermacam-macam mulai dari bahasa Inggris, bahasa Indonesia, hingga matematika. Pengalaman menjadi relawan inilah, yang membuat Lia semakin luwes dalam bergaul. Dia memiliki banyak teman tidak hanya dari ITN Malang tetapi juga dari kampus lain, seperti UB dan UM. Di situ dia dapat saling tukar pengalaman dan pengetahuan. Dua kecerdasan inilah yang membuat PT. Sambu Guntung, perusahaan besar yang bergerak di bidang kelapa sawit di Riau langsung meminangnya untuk bekerja. (her)

Mengenakan kerudung warna hitam dengan almamater, Lia Zahrotin Ni’mah terlihat tidak berlebihan secara penampilan. Cara bicaranya tegas, jelas, dan tidak bertele-tele. Dara asal Tuban ini memang dikenal vokal oleh teman-temannya. Itulah kesan yang tampak saat pertama kali mewawancarai wisudawati terbaik Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang jurusan teknik industri D3.

Ditemui digedung rektorat, Lia menceritakan banyak hal soal perjalananya selama belajar di kampus biru hingga dinobatkan sebagai terbaik. Menurutnya, setamat dari SMKN 1 Tuban, gadis yang juga seorang organisatoris itu sempat ingin masuk ke UGM. Tetapi rupanya belum takdir. Lalu berkat saran ayah tiri dia masuk ke ITN Malang jurusan teknik industri. Sejak itulah perjuangannya di mulai. Anak pasangan Tutik dan Sumitro tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar itu. Apalagi selama belajar ini dibiayai oleh perusahaan Semen Indonesia. “Sejak SMP saya mendapat beasiswa dari Semen Indonesia hingga kuliah,” terangnya.

Alumni SMP 1 Kerek tersebut belajar sangat tekun selama proses kuliah. Setiap tugas yang diberikan oleh dosen dikerjakan dengan baik jarang bolos. Ketekunan inilah yang membuatnya memperoleh IPK 3,69, sekaligus sebagai nilai tertinggi di antara semua wisudawan-wisudawati angkatan ke 57 periode I 2017.

Pada tugas akhirnya Lia membuat skripsi berjudul Perancangan Mesin Pencacah Pakan Ternak Yang Ergonomis Sebagai Usaha Pemenuhan Pakan Ternak. Dari penelitian ini, dia menciptakan alat pencacah rumput yang sangat efektif. Alat pencacah ini dapat mencacah lebih cepat 365 persen dari alat tradisional. Kemudian harga untuk membuatnya sangat murah berkisar 3,5 juta rupiah. Sementara alat tradisional 10 hingga 15 juta rupiah. “Alat ini cepat mencacahnya karena saya menggunakan mikrokontroller. Dari kontroller ini juga dapat diatur kecepatan mencacahnya,” kata anggota publik relation Perhumas muda Malang Raya itu.

Dari mana insprasinya? Menurutnya inspirasi itu datang di daerah Lia hidup ada banyak peternak sapi yang dalam kesehariannya harus mencacah rumput untuk memberi pakan ternaknya. Namun sayang keluhan mereka kadang cacahan itu tidak cukup lantaran tidak terlalu cepat. Nah dari keadaan ini, mantan ketua HMJ Teknik Industri itu ingin menemukan sesuatu yang dapat memudahkan peternak. “Paman saya itu peternak sapi, jadi saya tahu di situ bahwa alat pencacah rumputnya sangat lambat,” ujarnnya.

Selain itu, yang spesial dari dara manis ini adalah tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga ceras secara sosial. Terbukti di sela-sela kuliah, Lia selalu menyempatkan diri untuk menjadi relawan pengajar anak jalanan di Kota Malang. “Kalau waktu saya senggang saya ngajar anak jalanan di bawah jembatan Arjosari dan di sekitar kawasan Muharto,” kata ketua divisi pendidikan save street child Malang (SSCM). Adapun materi pelajaran yang berikan bermacam-macam mulai dari bahasa Inggris, bahasa Indonesia, hingga matematika.

Pengalaman menjadi relawan inilah, yang membuat Lia semakin luwes dalam bergaul. Dia memiliki banyak teman tidak hanya dari ITN Malang tetapi juga dari kampus lain, seperti UB dan UM. Di situ dia dapat saling tukar pengalaman dan pengetahuan. Dua kecerdasan inilah yang membuat PT. Sambu Guntung, perusahaan besar yang bergerak di bidang kelapa sawit di Riau langsung meminangnya untuk bekerja. (her)