Bayu Wirawan, Wisudawan Terbaik ITN Malang Sejak Mahasiswa Banyak Dapat Proyek

Nama Bayu Wirawan tidak asing lagi di kalangan tim robotik Insitut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Pasalnya, pria asal Lumajang tersebut penah mewakili kampus biru dalam ajang kontes robot. Yaitu, kontes robot Indonesia berkaki di ajang regional dan nasional pada 2015. Tak hanya itu, Bayu sapaan akrab sudah terbiasa “diorder” untuk menyelesaikan proyek-proyek tertentu hingga di luar Malang. Kekayaan pengalaman inilah yang membuatnya dapat menyelsaikan studinya dengan baik, bahkan menjadi wisudawan terbaik di jurusan Teknik Elektro konsentrasi elektronika.

Ditemui di kampus I, alumni SMK I Lumajang itu menceritakan beberapa proyek yang selama ini ditanganinya. Menurut, Bayu mulanya pada saat masih duduk di semester 6 dia diajak oleh seniornya untuk membuat alat otomasi industri, yaitu alat pemberi pakan ikan otomatis. Alat ini bekerja melepaskan pakan ikan ke dalam kolam sesuai frekuensi waktu yang sudah diatur. “Alat ini menggunakan mikrokontroller, dan saya hanya membuatnya dalam semalam,” uturnya tersenyum.

Setelah itu, pembicara dalam workshop Arduino tersebut mendapat proyek di Trenggalak yaitu membuat alat pemantau di jalan-jalan. Alat ini bekerja untuk mendeteksi apakah lampu di jalan masih hidup atau sudah mati. Untuk menyelasikan proyek ini, dia menggunakan dua model sensor. Sensor cahaya untuk mendeteksi malam hari dan sensor arus untuk malam hari. “Awalnya semua pakai sensor cahaya, tetapi kalau siang menjadi tidak berfungsi karena sudah banyak cahaya. Maka untuk siang diganti dengan sensor arus,” tuturnya.

Kemudian, anak pasangan Edi Indarto dan Endang Nanik itu memperoleh proyek di kapal kargo ekspres di Surabaya. Kapal ini mengalami masalah gensetnya mati dan tidak bisa dihidupkan. Karena kontroller menggunakan dari Cina, dan di Indonesia belum ada yang bisa mengatasi. Akhirnya dia dipanggil untuk mengatasi ini, dan Bayu memilih membuat mikrokontroller sehingga genset dapat diatur lagi. “Kalau yang genset ini baru, beberapa minggu yang lalu kita baru cek ke lapangan,” kata dia.

Berapa besaran bayaran yang didapat? Menurutnya dari setiap proyek ini dia tidak mendapat bayaran sepenuhnya. Karena dia masih ikut dengan para seniornya, maka tentu harus berbagi dengan sang seniornya walaupun dalam pembagian itu, dia dapat yang paling banyak. “25 persen untuk kakak tingkat, 75 persen untuk saya,” katanya tersenyum.

Pengalaman-pengalaman inilah yang membuat Bayu mudah mengikuti setiap pelajaran di kampus. Dia lulus dengan IPK 3,71. Adapun skripsi yang dibuat tentang Penerapan Metode Kendali PID (Propotional Integral Derivative) Pada Robot Keseimbangan Roda Dua. Robot buatannya ini sebetulnya ditargetkan untuk menjadi robot yang dapat melayani di restoran. “Ini masih prototipe yang bisa dikembangkan, dan saya berencana menjadikannya robot di restoran yang bisa ngantarkan makanan,” kata dia. (her)