Agung-Purwanto-wisudawan-terbaik-ITN-Malang

Jika selama ini saat melakukan scan atau pendataan, barang-barangnya yang dibawa mendekat ke komputer dan discan. Tentu saja pendataan demikian terbatas pada benda-benda yang mudah dipindah. Bagaimana jika yang ingin discan atau didata adalah bangku kursi, meja, papan tulis, alat-alat kantor lainnya. Rasanya cukup sulit harus membawa benda-benda itu ke hadapan komputer.

Kesulitan inilah yang ingin dijawab oleh Agung Purwanto, salah satu wisudawan terbaik Insitut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Dia berhasil membuat alat scan portable yang bisa dibawa kemana-mana. Sehingga saat ingin mendata benda-benda inventaris kantor tidak perlu bendanya yang dibawa ke depan komputer. “Barangnya hanya sebesar HP BB, jadi sangat mudah dibawa kemana-mana,” terang Agung saat ditemui di kampus I.

Secara lebih rinci wisudawan jurusan Teknik Elektro spesifikasi komputer tersebut menjelaskan bahwa alat yang dibuat itu merupakan rancangan dari berbagai alat-alat yang ada. Misalnya untuk dayanya menggunakan power bank, webcam yang ada auto fokusnya, layar touch screen, dan beberpa alat-alat kecil lainnya. Benda-benda ituah yang dirancang hingga dapat menjalankan fungsi untuk scan. “Alat ini, awalnya karena kajur (kepala jurusan) mengeluh alat-alat kantor sulit di data ke komputer, akhirnya saya terinspirasi untuk membuat alatnya,” katanya.

Temuan inilah yang dijadikan tugas akhir dengan judul Rancang Bangun Alat Pembaca QR Code Menggunakan Kamera Berbasis Raspberry PY. Dan membawa pemuda asal Malang tersebut menjadi salah satu wisudawan terbaik.

Pada kesempatan itu, Agung juga menceritakan perjuangannya dalam belajar hingga menjadi wisudawan terbaik yang membanggakan keluarga. Menurutnya, setamat dari SMK Muhammadiyah I Kepanjen dia tidak langsung kuliah. Sempat merantau ke Jakarta mencari kerja, di sana dia sempat menjual bakso. “Saat saya SMP orang tua saya pisah, di SMK saya dibiayai ibu sekolah. Setelah itu tidak bisa langsung lanjut,” terang anak pasangan Budi Utomo dan Ngatini itu.

Namun sekitar setahun di Jakarta, dia kembali ke Malang dan berkesempatan melanjutkan studi di ITN Malang. Sejak itulah petuangan belajarnya dimulai. Ibu tercinta rela bekerja keluar Malang untuk membantu mewujudkan cita-citanya. Namun demikian, pendaannya masih belum sepenuhnya mencukupi. Akhirnya dia sempat cuti tiga bulan dan bekerja di Telkom Kepanjen. “Setelah cukup dana lagi, saya lanjut studi lagi,” ujarnya.

Namun kini pemuda tangguh ini merasa lega dan dapat menikmati hasil perjuangannya. Dia dapat menuntaskan studi dan mempersembahkannya untuk keluarga tercinta, lebih-lebih setelah dinobatkan sebagai wisudawan terbaik jurusan teknik elektro konsentrasi teknik komputer. “Setelah wisuda ini, rencana terdekat saya pokoknya harus kerja dulu,” ujarnya. (her)