Berbekal-Pernah-Juara-Nasional-ITN-Malang-Optimis-Terbaik-di-Singapura

Meskipun baru yang pertama kali ikut kontes mobil irit Shell Eco Marathon tingkat Internasional di Singapura, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang optimis dapat menjadi yang terbaik. Optimisme ini mengacu pada capaian kampus biru selama ini yaitu pernah menjadi juara III di level nasional. “Kriteria lomba kali kami sangat menguasai, karena kami pernah juara III di level nasional pada 2014 laludan berkali-kali lolos. Untuk itu kami sangat optimis terbaik nanti di Singapura,” terang Anissatul Karimah, manajer tim UART G-UV (Uber Allies Racing Team Gasoline Urban Vehicle) saat diwawancara dalam acara Grand Launching Kreativitas Mahasiswa Mesin S-1 ITN Malang 2017 di aula kampus I.

Pengalaman tingkat nasional inilah yang terus dikembangkan oleh tim UART G-UV dengan melakukan penelitan lanjutan di beberapa bidangnya sehingga dapat disempurnakan. Menurut, Anissatul secara umum tidak ada perubahan dengan mobilnya kali ini, tetapi telah dilakukan pengembangan sehingga performa mobilnya akan lebih baik. “Penelitian kita sudah tahunan, sejak ikut lomba tingkat nasional. Tetapi untuk pembuatan mobil ini kami mulai sejak pertengahan 2016 lalu,” kata dara asal Kepanjen Malang itu.

Sayangnya, Anissatul belum bisa meceritakan spesifikasi pengembangannya lebih teknis lagi karena itu bagian dari rahasia kekuatan mobil. Namun dia mengatakan bahwa pada lomba 2014 mobilnya menghabiskan satu liter premium untuk jarak sejauh 83 kilometer. Kemungkinan kali ini akan lebih efisein lagi. “Maaf ya, nanti setelah lomba bisa kami ceritakan lebih detail lagi,” kata dia.

Menurut mahasiswi 20 tahun itu, dalam lomba yang akan digelar pada 15 hingga 19 Februari mendatang akan menilai dua hal yaitu efisiensi bahan bakar dan kecepatan laju mobil. “Jadi nanti kalau kita menang diadu kecepatan, maka akan dikirim ke ajang selanjutnya di London. Doakan ya,” ujarnya.

Sementara itu, Irvan Yulian Mahardika, sopir mobil bernomor 1817 menceritakan bahwa pertama mencoba ada sedikit kesulitan dikarenakan ban kecil padahal pemuda yang suka cross itu biasanya menggunakan mobil ban normal. Namun setelah mecoba beberapa kali sudah terasa meyatu dengan mobil berwarna merah itu. “Selain itu, ada beberapa kendala lain saat uji coba seperti bautnya copot dan pernah nabrak juga. Tapi sekarang sudah biasa,” lanjut mahasiswa asal Kalimantan itu.

Irvan juga menceritakan kecepatan puncak mobil ini adalah 90 kilometer per jam dengan berat 215 kilogram. Namun nanti dalam lomba hanya akan dipacu pada kecepatan 60 kilometer per jam.

Tim UART G-UV terdiri dari 7 orang di antaranya: Anissatul Karimah, Irvan Yulian Mahardika, Sholekhudin, Handrianus Hibur Janu, Muhammad Imron, Maolana Waliyul Amri, dan Wisnu Aribudiawan Rahman. Sementara dosen pendamping yaitu Eko Yohanes Setyawan, ST, MT. (her)