Dosen ITN Malang Ciptakan Tungku Pelebur Limbah Kaca Satu-Satunya di Jawa Timur

Kreativitas dosen ITN Malang menjadi angin segar bagi para perajin manik-manik kaca di Jawa Timur. Pasalnya tiga dosen ITN berhasil menciptakan tungku pelebur limbah kaca yang mampu mencairkan kaca hingga mudah dikreasi. “Menurut survei kami, para perajin manik-manik kaca di Jawa Timur masih menggunakan alat konvensional berupa periuk dan kompor brender. Itu tidak efektif,” terang Priscilia Tamara ST.MT, dosen D3 teknik Industri pada Kamis (3/9) di ruang humas ITN.

Dosen ITN Malang Ciptakan Tungku Pelebur Limbah Kaca Satu-Satunya di Jawa Timur

Dosen ITN Malang Ciptakan Tungku Pelebur Limbah Kaca Satu-Satunya di Jawa Timur

Menurut dosen ITN Malang prempuan yang akrab disapa Priscilia tersebut, alat tradisional yang digunakan perajin selama ini hanya menghasilkan panas 500 hingga 600 derajat celsius saja. Padahal pada ukuran panas tersebut, kaca belum bisa dicetak karena masih seperti gulali. “Untuk dicetak menjadi manik-manik atau yang lainnya, kaca harus benar-benar cair, dan dengan tungku kami kaca bisa sepenuhnya mencair,” lanjut perempuan asli Surabaya tersebut.

Apa yang menginspirasi dosen ITN Malang untuk tungku tersebut? Menurut Priscilia, ide pembuatan tungku itu berawal dari kebiasaannya mengunjungi tempat perajin kaca di desa Lumbon Gambang, Jombang. Pada tahun 1980, saat dia masih kecil sering ikut sang ayahnya ke salah satu desa penghasil aksesosoris, manik-manik, dan tasbih kaca tersebut. Pada tahun 2012 lalu, dia berkunjung kembali ke tempat tersebut, ternyata peralatan yang digunakan para pengajin masih sama dengan tahun 1980an. “Alatnya tetap sangat tradisional, cara buatnya lama, hasilnya sedikit, dan jika dijual hasilnya sangat murah. Tentu perajin rugi, dari itulah kami terinspirasi,” lanjutnya.

Maka, Priscilia bersama dua orang dosen ITN Malang lainnya yaitu Peniel Gutton, ST.SM, dosen D3 teknik mesin dan Sanny Andjar Sari, ST.MT, dosen D3 teknik industri membuat tungku menggunakan bahan alumina refraktori tinggi. Mereka membuat design sendiri kemudian dirancang oleh tukang las. Ukuran tungku yaitu tinggi 85 sentimeter, lebar 55 sentimeter, dan panjang 85. “Dengan ukuran segitu tungku sangat portable, dan tidak panas bagi pekerjanya,” papar Priscilia.

Sanny Andjar Sari yang menemani Priscilia saat wawancara juga menjelaskan, bahwa tungku ini menggunakan bahan bakar gas LPG. Pemilihan bahan bakar ini didasarkan pada kemudahan warga mendapat gas di pasaran. Sebelumnya Institut Teknologi Bandung (ITB) pernah berupaya membuatkan tungku dengan menggunakan bahan bakar batu bara di tempat yang sama tetapi tidak efetif. “Batu bara susah didapat warga, sehingga upaya ini gagal,” jelas Sanny.

Perempuan asli Surabaya itu juga menjelaskan panas yang dihasilkan oleh tungku karyanya hingga mencapai 1.300 derajat celsius dalam waktu empat jam. Untuk itu limbah kaca yang dimasukkan ditungku dapat cair sepenuhnya dan dapat dikreasi oleh warga. “Biasanya pada suhu 1.270 derajat celsius sudah mencair, tetapi kan tidak langsung dimatikan apinya hingga terbentuk manik-manik atau kaca datar,” paparnya.

Dengan demikian, perajin semakin efektif dalam mencetak manik-manik dari limbah kaca, tidak terlalu panas saat melakukan pembakaran, dan perajin dapat membentuk berbagai variasi manik-manik karena kaca sepenuhnya mencair. Hasil penelitian dosen ITN Malang ini diberi judul Pengembangan Model Tungku Pelebur Limbah Kaca dengan Metode QFD dan AHP di Sentra Industri Manik-Manik Kaca Jombang. (her)