alumni-itn-malang-ajari-mahasiswa-teknik-mesin-manajemen-perbengkelan

Bengkel dalam konteks modern merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan dunia otomotif. Paling tidak bengkel menjadi tempat untuk merawat, memperbaiki, atau melakukan penggantian komponen mesin-mesin yang dimiliki masyarakat. Untuk hal ini hampir semua bengkel penuh di Kota Malang setiap harinya. Demikian pemaparan Wahyudi Eko Susanto, saat menjadi memberi materi manajemen bengkel di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Disamping itu menurut pria yang akrab disapa Wahyudi tersebut pertumbuhan jumlah kendaraan di Malang terus bertambah. Karena itu kebutuhan akan bengkel juga akan meningkat. Dan ternyata bengkel di Malang cukup banyak, baik yang untuk modifikasi, spooring, balancing, engine tune up maupun kaki-kaki mobil. Masing-masing bengkel ini satu sama lain saling bersaing. “Agar dapat bertahan dalam persaingan ini bengkel harus memiliki manajemen yang oke,” lanjut pria yang juga alumni teknik mesin ITN Malang tersebut.

Dalam pengaturan manajemen perbengkelan ada tiga hal yang harus diperhatikan. Yang pertama berkaitan dengan personil direct yang meliputi mekanik. Kedua, Semi direct berkaitan dengan kepala bengkel, frontman, quality control, marketing dan receptionist. Ketiga, personil indirect yaitu petugas administrasi, petugas gudang, atau satpam. “Jadi dalam bengkel itu tidak bisa satu atau dua orang saja, harus diatur sedemikian rupa,” imbuhnya.

Selain itu juga penting, imbuh pria Wahyudi, bengkel harus bersertifikasi. Hal ini sebagaimana diatur dalam UU No. 14 1992 tentang lalu lintas dan angkutan jalan raya. Sertifikasi ini bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan bengkel, untuk memberikan transparansi kualitas pelayanan bengkel, dan juga untuk menunjang program keselamatan berkendara. “Dan tak kalah pentingnya bengkel harus menjaga kualitas, kerja keras, jujur, manajemen, dan kekeluargaan,” kata dia. (her)